WITARADYA

 KRATON PENGGING WITARADYA


Tersebutlah Radèn Narayana naik tahta menjadi Raja di Keraton Mamênang Kadhiri bergelar Sri Bathara Aji Jayabaya, pada tahun candrasangkala 839 têrusing gapura wolu.

Ketika beliau wafat digantikan oleh 

Putranya yaitu Prabu Jaya Hamijaya  pada tahun candrasangkala 883 gunaning brahmana astha.

Ketika Prabu Jaya Amijaya wafat, kedudukannya digantikan  Prabu Jayamisena, pada tahun candrasangkala 890,  sirnaning gapura wolu.

Kemudian ketika Prabu Jayamisena wafat digantikan putranya, jumênêng nata ing Mamênang kaping 5, dengan gelar Prabu Kusuma Wicitra, pada tahun candrasangkala 943 uninga kartining gapura, Setelah memerintah selama 10 warsa, Keraton Mamenang mengalami banjir yang hebat Prabu Kusuma Wicitra  memindahkan pusat pemerintahan Kedhaton Tahun candra sangkala 953, katon lima êlènging gangsir dan pusat pemerintahannya dinamakan Keraton Pengging Witaradya. Pada tahun itu pula 

Prabu Kusuma Wicitra wafat , digantikan  oleh putranya yaitu Prabu Citrasoma, .


Putra Prabu Citrasoma, jumênêng nata  dengan nama Prabu Pancadriya pada tahun candrasangkala 961,  bumi obah ping sanga.


Putranipun Prabu Păncadriya, jumênêng nata ing Pêngging kaping 4, jêjuluk Prabu Anglingdriya, jumênêngipun amarêngi taun candrasangkala 982, tinêngêran sikara astha babahan.

Selanjutnya Prabu Anglingdriya sèlèh kaprabon ,  menyerahkan tahta Pengging kepada putra mantunya mengingat, menantunya tersebut berhasil mengalahkan Prabu Karungkala yang menyerang Nagari Pengging, bergelar Prabu Darmamaya , pada tahun candrasangkala 1019,  trusing ati nir sêdyane.

Kemudian ketika Prabu Darmamaya wafat, Tahta Kerajaan Pengging kembali dipimpin oleh Prabu Anglingdriya taun candrasangkala 1020, tinêngêran nir sêmbah nêngèng sujana.Dan ketika Prabu Anglingdriya wafat tahta diserahkan kepada putranya yaitu Prabu Pandayanata, tahun candrasangkala 1044, sucining tirta tumêngèng rupa.

Setelah Prabu Pandayanata ( Arya Pandaya I) wafat, kemudian tahta Keraton Pengging digantikan putranya yaitu Prabu Handayaningrat ( Arya Pandaya II ) yaitu Prabu Bratandriya. Prabu Bratandriya berkenan memiliki permaisuri bernama Dewi Wogan ( putri Prabu Bhre Kumara, Raja Majapahit )

Sebagai raja selanjutnya adalah Putra Prabu Bratandriya yaitu Prabu Madu Suddana.

Dalam perjalanannya, putra beliau Madukusuma merebut tahta dari ayahandanya hingga akhirnya Prabu Madu Suddana wafat.

Setelah Prabu Madukusuma wafat kemudian digantikan saudara beliau yaitu Prabu Panca Prabangga hingga akhirnya tahta Pengging jatuh kepada adiknya yaitu Prabu Madu Sumarma. Pada masa Prabu Sumarma, Kraton Pengging Witaradya mengalami masa suram akibat serangan dari Kerajaan Majapahit yang menakhlukkan Keraton Pengging menjadi bagian wilayah Majapahit. Untuk beberapa waktu Kraton Pengging mengalami kekosongan pemerintahan dibawah kendali Majapahit 

Hingga akhirnya Kraton Majapahit menunjuk Arya Pandaya III menjadi Adipati Kadipaten Pengging Witaradya. Arya Pandaya III dinikahkan dengan putri Prabu Brawijaya IV yaitu Retno Mundri. Arya Pandaya III mendapat nama julukan yaitu Arya Bubaran.


Beberapa tahun tlah berlalu. Sepeninggal Arya Pandaya III, Kraton Pengging Witaradya berdiri dibawah kendali Keraton Majapahit. Hingga kemudian Prabu Brawijaya V menikahkan Jaka Sengoro dengan putrinya yaitu Retno Pembayun.

Kemudian Prabu Brawijaya V mengangkat Jaka Sengoro sebagai Adipati Pengging dengan gelar Adipati Handayaningrat. Setelah wafat beliau mendapat gelar Sri Makurung Prabu Handayaningrat

Dari pernikahan Adipati Handayaningrat dan Retno Pembayun menurunkan :

1. Ki Ageng Kebo Kanigoro

2. Ki Ageng Kebo Kenanga

3. Kebo Amiluhur


Ki Ageng Kebo Kenanga memiliki seorang putra yaitu Mas Karebet.


Kelak Mas Karebet, perjaka dari dukuh Tingkir menjadi Raja di Kasultanan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya, jumênêngipun amarêngi taun candrasangkala 1503, tinêngêran dahana muluk barat nêmpuh wani.


copas

eng 21.45

borneo

Komentar

Postingan Populer