SANG PURNAMA SABIT
Rembulan yang kita pandang dari bumi sungguh tampak indah dan memukau,tidak sedikit para pujangga membuat sajak,puisi ataupun kiasan tentang rembulan.
Saat purnama tiba banyak orang yang melakukan ritual sebagai lambang kesempurnaan,bagi sebagian orang masih menyakini bahwa cahaya purnama adalah energi sempurna untuk menyatu dengan raga,sebagai pamacu cahaya dalam diri yang belum bersinar terang.
Padahal sejatinya purnama dan sabit adalah satu,hanya saja sebagian gelap nya belum tersinari. Purnama adalah keutuhan sinar matahari ke bulan,sedangkan sabit adalah siran matahari di sebagian bulan saja.
Tak beda hal nya dengan kita,saat belum mencapai titik kesadaran intuisi penuh,maka kita adalah sang sabit. Yang dimana kita masih belum terkena sinar Ilahi seutuh nya.
Ketika datang hangat sinaran Ilahi,kita akan merasakan keutuhan diri menapak kehidupan. Dan semua hal terasa seperti sebuah pengalaman diri yang menjadi penimbang kejalan spiritual keilahian.
Ciri yang mencolok saat intuisi ilahi bangkita adalah selaras nya rasa dengan pribadi manusia, karena tidak lagi merasakan kecemasan,ketakjuban,kesombongan akan hal yang ada di dunia. Karena semua sudah terpapar di dalam perjalanan keilahian yang lebih menakjubkan di banding dunia seisinya.
Ruang waktu seorang purnama adalah kekosongan yang menyenangkan,sebagai contoh ketika seorang yang telah di amanahi sebuah intuisi ilahi akan merasakan segala tempat dan waktu tak lagi membatasi gerak dan keasyikan nya dalam berjalan masuk kedalam diri sejati.
Pada dasar nya di dalam adalah bayangan untuk apa yang ada di luar,tak beda dengan bulan sabit adalah purnama yang sedang berproses.
eng
07.10
samarinda
Komentar
Posting Komentar